Langsung ke konten utama

PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN

Ki Hadjar Dewantara dilahirkan pada hari kamis legi, 2 Ramadhan 1309 H atau bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1889. Keluarga besar beliau merupakan keturunan pangeran Kadipaten Puro Pakualaman yang notabenenya adalah seorang ningrat, nama lengkap beliau Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.
Banyak sekali gagasan-gagasan tentang pendidikan yang beliau cetuskan dan praktikkan sehingga pantas untuk digali dan direfleksikan diantaranya:

Pertama, pendidikan adalah tuntunan.

Pendidikan merupakan tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Selain itu pendidikan dimaksudkan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Mendidik sama dengan menuntun. Tugas pendidik adalah sebagai ‘pamong’ atau pengasuh untuk mengembangkan semua potensi anak berupa, minat, bakat, potensi, pengetahuan, keterampilan hingga budi pekerti.

Kedua, hidup dan tumbuh anak menurut kodratnya.

Hidup tumbuhnya anak bukan karena kehendak pendidik, tetapi menurut kodratnya. Tugas pendidik diibaratkan sebagai petani yang hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, memelihara, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu, tetapi tidak dapat mengganti kodratnya menjadi jagung. Meskipun demikian pendidikan sangat dibutuhkan oleh anak agar anak yang mungkin pada dasarnya tidak baik, dengan adanya tuntunan akan menjadi baik, yang sudah baik menjadi lebih baik, serta menghindarkan pengaruh-pengaruh keadaan buruk.
Anak lahir seperti sehelai kertas yang sudah ditulisi penuh, tetapi masih samar. Pendidikan berkewajiban dan berkuasa menebalkan tulisan yang suram dan yang berisi baik, agar kelak nampak sebagai budi pekerti yang baik. Segala tulisan yang mengandung arti jahat hendaknya dibiarkan, agar jangan sampai menjadi tebal, bahkan diusahakan agar semakin suram.

Ketiga, menyesuaikan kodrat alam dan kodrat zaman.

Kodrat alam dan kodrat zaman tidak dapat dipisahkan dalam diri anak, seorang anak adalah unik, berbeda satu dengan yang lain sehingga pendidikan harus dapat memfasilitasi mereka agar bisa tumbuh optimal menuju kodrat masing-masing. Kodrat alamiah anak yang suka dengan permainan juga akan membuat pembelajaran lebih berkesan bagi murid jika dilakukan dengan permainan. Pendidikan juga harus mempertimbangkan aspek geografis, sosial, budaya dan kearifan lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat,
Kodrat zaman juga perlu dipertimbangkan, karena tujuan pendidikan menuntun anak menjadi dirinya sendiri (sesuai kodratnya), sehingga pendidikan harus kontekstual, sesuai tahapan perkembangan murid, serta selaras dengan perkembangan zaman. “Didiklah anak-anak kita dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri”.

Keempat, pendidikan memerdekakan anak.

Cara mendidik juga harus disesuaikan kodratnya seperti petani yang menanam padi tidak bisa memeliharanya seperti tanaman jagung. Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun tugas pendidik memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.
Pengajaran dan pendidikan yang berguna adalah memerdekakan manusia, sehingga hidupnya tidak tergantung pada orang lain, tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Pendidikan menuntun murid bertumbuh secara utuh sehingga menjadi pribadi mandiri (merdeka lahir), serta dapat memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin).

Kelima, pendidikan yang holistik.

Pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), fikiran (intelek), dan jasmani anak-anak, supaya dapat memajukan kesempurnaan hidupnya selaras dengan alam dan masyarakatnya. Budi pekerti, watak, atau karakter merupakan hasil dari bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi berarti pikiran-perasaan-kemauan, sedangkan pekerti artinya ‘tenaga’.
Pendidikan bukan hanya ditujukan untuk mendapatkan nilai-nilai yang tinggi dalam raport atau ijazah saja, tetapi harus menyeluruh untuk perkembangan hidup kejiwaan, intelektual dan jasmani. Pendidikan juga harus mampu membangun semangat kemandirian dalam menuntut ilmu dengan selalu menggali ajaran-ajaran luhur dari warisan budaya, kearifan lokal maupun agama.
Pendidikan juga tidak boleh terpisah dari masyarakat, justru harus mendekatkan murid dengan perikehidupan rakyat, sehingga tidak hanya mendapat “pengetahuan” tentang kehidupan rakyat, tetapi mengalami dan menjadi tidak bisa terpisah dengan rakyat.

Keenam, berhamba pada anak.

Seorang pendidik dalam menjalankan tugas hendkanya “bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak”. Ini berarti pendidikan harus mengutamakan anak, berpusat pada anak, dan memuliakan anak, agar selamat dan bahagia.

Ketujuh, tempat persemaian benih kebudayaan.

Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan, agar segala unsur peradaban dan kebudayaan dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya, dan dapat diteruskan kepada anak cucu yang akan datang. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.
Melalui pendidikan, kebudayaan dapat terus berkembang sebagai kelanjutan dari kebudayaan sendiri (kontinu) menuju ke arah kesatuan kebudayaan dunia (konvergen) dan tetap terus mempunyai sifat kepribadian di dalam lingkungan kemanusiaan sedunia (konsentris).

Kedelapan, metode among.

Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan adalah dengan metode among yaitu suatu metode yang tidak menghendaki “paksaan-paksaan”, melainkan memberi “tuntunan” bagi hidup anak-anak agar dapat berkembang dengan subur dan selamat, baik lahir maupun batinnya. Sistem among berkaitan dengan kata dasar Mong yang mencakup Among, Momong dan Ngemong, biasa disebut “Tiga Mong”, yaitu memberikan pengasuhan, perhatian, dan stimulasi pada anak untuk mengembangkan aspek perkembangan anak atau dikenal juga asah, asih, asuh.
Sistem among juga tercermin dalam Trilogi Pendidikan “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Ing Ngarsa Sung Tuladha, berarti ketika guru berada di depan, harus memberi teladan atau contoh dengan tindakan yang baik. Ing Madya Mangun Karsa berarti pada saat di antara peserta didik, guru harus menciptakan prakarsa, ide dan membangun kemauan. Tut wuri handayani berarti dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan.

Kesembilan, trisentra pendidikan.

Tanggung jawab pendidikan juga tidak hanya dibebankan pada sekolah tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. "Di dalam hidupnya anak-anak ada tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya, yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda." Dari konsep tersebut lahir istilah Tri Sentra Pendidikan (Tripusat Pendidikan) yang menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, meliputi tiga hal, yakni pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat.
Justru keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama, paling mulia, paling suci dan murni dalam dasar-dasar sosialnya. Di dalam keluarga terdapat cinta kasih, semangat tolong-menolong, rasa kewajiban berkorban, ikut bertanggung jawab dan segala unsur-unsur budi sosial dan kesusilaan. Orang tua adalah guru pertama bagi anak, anak belajar banyak hal dari orang tua sebelum mereka mengenal pendidikan formal.

Kesimpulan

Inti pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang dapat saya simpulkan adalah tuntunan terhadap segala kodrat, dengan menyesuaikan kodrat alam dan zaman, melalui budi pekerti menuju manusia merdeka yang berkarakter sesuai Profil Pelajar Pancasila, demi keselamatan dan kebahagiaan lahir dan batin.

Refleksi terhadap Pemikiran-Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Setelah mempelajari pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara, ada beberapa perubahan pandangan saya terhadap murid dan pembelajaran antara lain:

Tentang murid

Sebelumnya saya keliru dengan menganggap semua murid punya potensi sama dan bisa dilatih untuk meguasai kompetensi tertentu. Ternyata saya sadar bahwa murid sangat beragam dalam minat, bakat, potensi, pengetahuan awal, motivasi dan kebutuhan belajarnya. Sehingga penting untuk menggali informasi tentang hal-hal tersebut agar dapat berguna merancang pembelajaran yang sesuai.
Sebagai guru, saya harus melakukan asessmen diagnostik awal untuk mengetahui kebutuhan belajar, profil, gaya belajar murid, metode belajar seperti apa yang mereka inginkan, sehingga kita sebagai guru dapat merancang pembelajaran yang tepat dan sesuai kebutuhan, selanjutnya melakukan penyesuaian pembelajaran sehingga masing-masing murid mendapatkan layanan yang sesuai. Dengan demikian murid juga merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan proses belajarnya.

Tentang Pembelajaran

Dalam memberikan pembelajaran saya juga kurang memperhatikan kebutuhan belajar murid yang berbeda-beda, dengan menggunakan strategi, metode dan model pembelajaran yang baik dan menarik dalam persepsi guru, tanpa melibatkan murid untuk memilih bagaiaman pembelajaran akan dilakukan. Pembelajaran juga hanya merupakan transfer ilmu pengetahuan dengan guru sebagai pusatnya. Guru aktif dan murid harus diam tenang dan tertib mengikuti pembelajaran.
Target pembelajaran terfokus pada menuntaskan materi dalam kurikulum, tidak memperhatikan apa yang disukai, bermakna dan berguna bagi murid. Pembelajaran yang memementingkan nilai raport, bukan pada sikap dan budi pekerti.
Apa yang saya percaya dan lakukan tersebut ternyata keliru. Pembelajaran bukan sekedar transfer pengetahuan, tetapi bagaimana murid mengalami atau membentuk sendiri pengetahuannya melalui pengalaman belajar. Pembelajaran harus berpusat pada murid dan berpihak pada murid. Murid diposisikan sebagai subjek pendidikan yang memegang peranan penting terhadap jalannya pembelajaran. Guru sebagai fasilitator hanya mengarahkan siswa belajar sesuai potensi, minat, bakat, dan cara belajarnya. Pembelajaran tidak dengan tuntutan kepada anak, tetapi dengan memberikan kebebasan kepada anak untuk belajar sesuai gaya dan kebutuhan belajarnya.
Dalam pendidikan yang paling utama untuk dikembangkan adalah budi pekerti, dan metode yang sesuai yaitu sistem among, dimana guru sebagai pamong, bertugas ngemong atau menuntun murid. Juga dengan asah, asih asuh. Mengasah akal budi, mengasihi murid dan mengasuh murid agar menjadi berkarakater dan memiliki profil Pelajar Pancasila.
Proses pembelajaran sejatinya dimaksudkan untuk mengembangkan semua potensi murid, baik budi pekerti, pikiran, maupun tubuhnya agar menjadi anak yang selamat dan bahagia. Melalui keteladanan kepada murid, dalam hal sikap, penampilan, kemandirian, disiplin, gotong royong, dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Berada bersama murid untuk membangun ide, gagasan, prakarsa. Serta selalu memberikan dorongan atau motivasi dengan kata-kata positif dan menghargai perkembangan belajar murid, melakukan pembiasaan budaya positif dan penerapan disiplin positif.

Apa yang segera akan saya lakukan?

Untuk dapat mewujudkan itu, tentunya harus dimulai dari langkah kecil di kelas, antara lain:
  1. Berupaya memberi teladan, baik dalam bersikap, berpenampilan, berbicara, maupun dalam kedisiplinan. Selalu memberi semangat, dorongan dan motivasi kepada murid dalam pembelajaran. Menguatkan dan mengutamakan pendidikan karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila melalui aktivitas pembelajaran.
  2. Melakukan pembiasaan dan budaya positif di kelas sebelum pembelajaran seperti berdoa, merapikan pakaian, membersihkan lingkungan belajar. Membangun kesepakatan kelas sebelum pembelajaran agar setiap murid memiliki kesadaran apa yang harus, boleh dan tidak boleh dilakukan. Sehingga murid terbiasa saling menghargai dengan orang lain.
  3. Pada saat memulai suatu materi baru, saya akan melakukan asesmen diagnostik kognitif dan non kognitif, untuk mengetahui pengetahuan awal, potensi, minat dan cara belajar murid. Kemudian akan merancang pembelajaran yang bisa mengakomodir semua kebutuhan murid tersebut dan melakukan pembelajaran yang berdiferensiasi.
  4. Dalam pembelajaran saya juga akan mengutamakan gotong-royong dan tolong-menolong. Murid yang cepat menguasai pembelajaran akan membantu temannya yang masih kesulitan, melalui model-model pembelajaran kolaboratif (STAD, Jigsaw, inquiri, discovery, PBL, PjBL dan lain-lain, serta menggunakan berbagai sumber belajar, seperti lingkungan, surat kabar, majalah, narasumber, maupun internet. Dalam pembelajaran ini sayapun akan memposisikan diri sebagai fasilitator, pamong atau pengasuh bagi murid.
  5. Setelah rangkaian pembelajaran selesai, saya akan mengajak murid merefleksikan bagaimana perasaannya saat pembelajaran, apa manfaat yang bisa dipetik dari pembelajaran, apa yang sudah diketahui, dan apa yang ingin diketahui lebih lanjut. Saya juga akan meminta umpan balik dari murid terhadap metode dan model pembelajaran yang diterapkan, serta peran saya sebagai fasilitator, sebagai bahan perbaikan pada pembelajaran selanjutnya.
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara sungguh sangat luas dan dalam, sehingga sulit bagi saya untuk benar-benar menyelami dan merefleksikannya. Tulisan di atas hanyalah sekedar pemahaman saya, untuk kemudian saya refleksikan sesuai yang saya yakini dan kemudian akan saya lakukan di kelas. Jika ada kesalahan, tentunya karena kekurangmampuan saya dalam memahami ajaran-ajaran luhur beliau.

Semoga bermanfaat. Salam dan Bahagia.

Gambar ilustrasi bersumber dari: 

https://edukasi.kompas.com/read/2021/05/02/113212171/peringati-hardiknas-yuk-ketahui-sisi-lain-ki-hadjar-dewantara?page=all

Komentar