Jurnal refleksi merupakan media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman, serta praktik baik yang telah dilakukan, sehingga memberikan kontribusi nyata penerapan pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas dan sekolah sebagai pusat pengembangan karakter. Pada kesempatan ini saya akan menuliskan jurnal refleksi menggunakan model I: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future).
A. Facts (Peristiwa)
Pengalaman saya selama mengikuti pembelajaran pada Modul 1.1. ini adalah senang sekaligus menantang. Bukan saja karena harus membiasakan dengan sistem dan ekosistem pembelajaran, tetapi juga karena beberapa jadwal yang datang mendadak, sehingga membutuhkan manajemen waktu yang baik.
Berikut hal-hal yang saya pelajari melalui tahapan siklus merdeka di dua minggu pertama ini:
1. Mulai dari Diri
Di sini saya mengungkapkan apa yang sudah saya pahami dari konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara seperti Ing ggarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, pendidikan sebagai tuntunan, tentang kodrat dan pendidikan yang berpihak pada murid. Saya juga menuliskan bagaimana pemikiran tersebut masih relevan dan bagaimana penerapan dalam konteks sekolah. Terakhir say menuliskan apa ekspektasi saya mempelajari Modul 1.1.
2. Eksplorasi Konsep
Pada saat eksplorasi konsep saya belajar di LMS tentang berbagai pandangan pendidikan Ki Hajar Dewantara yang sangat dalam dan filosofis. Pemikiran beliau yang sangat maju, terutama pandangan beliau bahwa pendidikan tidak diukur dari nilai saja, tetapi terutama adalah budi pekerti.
Dimulai dengan menyimak video tentang bagaimana potret pendidikan Indonesia sejak zaman kolonial.
Dilanjutkan dengan mempelajari 3 tulisan KHD yang memuat beberapa pandangan dan pemikiran pendidikan dan kebudayaan beliau yaitu: Dasar Dasar Pendidikan; Metode Montesori, Frobel dan Taman Anak; serta Pidato Sambutan Ki Hadjar Dewantara.
Di sini saya diberi kesempatan menyusuri pandangan-pandangan beliau dengan bahasa beliau sendiri yang kaya akan makna, terkadang harus dibaca berulang-ulang untuk menemukan makna tersurat dari yang tersirat. Sehingga menguatkan perubahan pandangan saya tentang penididikan dan pengajaran selama ini.
Eksplorasi konsep ditutup dengan masing-masing CGP memberikan refleksi dengan suara atau vlog yang diunggah ke Google Drive. Karena waktu itu Google Drive agak sulit memproses video, akhirnya saya ganti dengan suara (audio).
3. Ruang Kolaborasi
Di ruang kolaborasi saya diberi kesempatan mengungkapkan refleksi tentang pemikiran KHD kepada fasilitator dan teman-teman CGP Kelas A yang terdiri dari 8 guru.
Selanjutnya kami diberi kesempatan untuk berdiskusi kelompok untuk mengangkat satu tema konteks sosial budaya yang dapat menebalkan kodrat murid dan kebetulan tema yang diangkat dari sekolah saya yaitu tentang penerapan mulok karawitan untuk menuntun kodrat. Diskusi dilakukan secara tatap maya atau daring.
Hari berikutnya kami diberi kesempatan mempresentasikan hasil diskusi dan menerima beberapa pertanyaan dan masukan yang cukup banyak memberi perluasan pandangan kami tentang bagaimana agar penerapan mulok dapat memberi dampak yang menyeluruh bagi warga sekolah.
4. Demonstrasi Kontekstual
Pada siklus ini saya mendemonstrasikan pemahaman dan kontekstualisasi pemikiran KHD di lingkup kelas atau sekolah. Setelah memaparkan tentang ringkasan filosofi KHD, saya menyampaikan penerapan saya di sekolah berupa pembiasaan budaya positif, serta pembelajaran berdiferensiasi dan berpihak pada murid. Hasil demonstrasi saya buat menggunakan power point, selanjutnya dikonversi menjadi video, kemudian diedit untuk menambahkan suara latar.
5. Elaborasi Pemahaman
Pada siklus ini saya diberi kesempatan untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang pemikiran filosofis KHD bersama instruktur Bapak Nugroho Widi Pamungkas salah satu pengawas di Kota Tangerang Selatan. Dari beliau saya banyak mendapatkan kata-kata kunci dari pemikiran KHD. Salah satunya adalah pendidikan yang berhamba pada anak, untuk menggambarkan bagaimana sebenarnya pendidikan itu harus berpusat pada anak, hanya untuk anak dan sesuai untuk anak.

6. Koneksi Antarmateri
Koneksi antarmateri ini memberi kesempatan saya menghubungkan semua siklus merdeka di Modul 1.1 untuk menjadi sebuah kesimpulan dan refleksi. Bagaiamana saya memandang murid dan pembelajaran sebelumnya sebagai proses trasfer pengetahuan, berpusat pada guru, menuntaskan materi, mementingkan nilai. Saya sampaikan perubahan mindset saya menjadi berpusat pada murid, mementingkan budi pekerti dan penilaian proses, menggunakan sistem among dan penerapan trilogi pendidikan.
Agar nantinya menjadi salah satu artefak pembelajaran saya, koneksi antar materi ini saya tuliskan di blog pribadi saya yaitu:
https://sartana-guru.blogspot.com/2022/09/pemikiran-pemikiran-ki-hadjar-dewantara.html
7. Aksi Nyata
Pada tahap aksi nyata saya diminta mendokumentasikan kontribusi nyata penerapan pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas dan sekolah sebagai pusat pengembangan karakter. Dokumentasi yangs aya lakukan berupa foto atau video yang nantinya akan saya kumpulkan menjadi sebuah narasi tentang perubahan nyata di sekolah.
Selain itu saya juga membuat atau menuliskan jurnal refleksi yang direncanakan untuk setiap dwi mingguan.
Hambatan atau kesulitan
Sebenarnya saya tidak mengalami hambatan atau kesulitan yang berarti, kecuali karena membutuhkan penyesuaian diri, baik dengan LMS, dengan Pengajar Praktik, Fasilitator dan instruktur, serta dengan teman-teman sesama CGP. Begitu juga dengan manajemen waktu yang membutuhkan strategi agar tugas pokok tetap terlaksana dengan baik, namun tugas di PPGP juga bisa terselesaikan sesuai waktunya.
Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut?
Untuk mengatasi kendala, tentunya saya meluangkan waktu cukup banyak untuk belajar menggunakan LMS, banyak belajar juga dari tugas-tugas yang pernah dibuat oleh angkatan sebelumnya, sehingga memiliki gambaran bagaimana tugas harus saya kerjakan. Selain itu saya berusaha untuk segera menyelesaikan tugas, agar bisa segera selesai tepat waktu.
B. Feelings (Perasaan)
Bagaimana perasaan saya selama pembelajaran berlangsung?
Saya selama pembelajaran pembelajaran merasa sangat senang karena banyak mendapatkan ilmu baru, terutama tentang konsep filosofis pendidikan ki Hajar Dewantara yaitu pendidikan yang menuntun, pendidikan yang memerdekakan anak lahir batin dan pendidikan yang berpihak pada murid.
Demikian juga dengan sistem pembelajaran menggunakan siklus merdeka sangat menantang bagi saya. Karena di sana diberi kesempatan mengeksplorasi secara mandiri, berkolaborasi dengan sesama CGP yang dipandu oleh fasilitator, melakukan elaborasi pemahaman bersama instruktur, dilanjutkan dengan membuat koneksi antar materi berupa kesimpulan dan refleksi, serta diakhiri dengan aksi nyata.
Pada saat aksi nyata saya juga berkesempatan menerapkan konsep filosofis KHD di dalam pembelajaran yang cukup menantang, tetapi juga sekaligus menyenangkan, bagi saya sebagai guru maupun bagi murid.
Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas?
Hal yang menyenangkan dalam melakukan aksi nyata adalah melihat respon murid yang antusias melakukan pembelajaran, sehingga membuat saya bahagia. Sehingga persiapan yang dilakukan sebelumnya terasa terbayarkan.
C. Findings (Pembelajaran)
Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini?
Pelajaran yang saya dapatkan selama proses pembelajaran ini adalah bahwa pembelajaran adalah harus berpihak pada murid dan memerdekakan murid. Artinya murid yang berbeda-beda karakteristiknya memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan dari kita selaku guru.
Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini?
Saya jadi tahu bahwa selama ini sebenarnya murid tidak suka dengan cara mengajar guru yang hanya berdiri di depan kelas, atau memberi contoh kemudian diikuti murid. Murid menginginkan lebih yaitu ingin menunjukkan kemampuannya dalam menguasai pembelajaran.
D. Future (Penerapan)
Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan?
Yang bisa saya lakukan untuk lebih baik di masa depan adalah banyak memberikan tantangan kepada murid terkait pembelajaran, dengan persiapan yang lebih matang, dengan memanfaatkan sumber daya yang memungkinkan. Saya akan banyak memberikan tugas proyek kepada murid, dan memposisikan di tengah-tengah murid untuk membangun ide dan prakarsa, sehingga murid akan tumbuh dalam budaya kemandirian belajar.
Demikian jurnal refleksi ini. Semoga bermanfaat untuk saya terutama dan untuk pembaca. Terima kasih. Salam dan bahagia.









Komentar
Posting Komentar