Dalam upaya mewujudkan visi dan profil pelajar pancasila, sekolah harus dapat menciptakan suasana yang kondusif atau lingkungan positif, yang mendukung murid menjadi pribadi yang bahagia, mandiri, dan bertanggung jawab sesuai filosofi Ki Hadjar Dewantara. Di sinilah peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran, pendorong kolaborasi dan mewujudkan kepemimpinan pada murid sangat dibutuhkan. Guru penggerak diharapkan mampu menggerakkan, memotivasi warga sekolah agar memiliki, meyakini dan menerapkan nilai-nilai kebajikan yang disepakati, sehingga tercipta budaya positif dan berpihak pada murid.
Untuk membangun budaya positif tersebut, diperlukan berbagai strategi, diantaranya penerapan disiplin positif. Disiplin positif bertujuan menanamkan motivasi pada murid-murid untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang berasal dari motivasi internal. Seseorang yang memiliki disiplin diri, bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.
Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Seperti yang telah dikemukakan oleh Dr. William Glasser pada Teori Kontrol (1984), yang menyatakan bahwa setiap perbuatan memiliki suatu tujuan, dan selanjutnya Diane Gossen (1998) mengemukakan bahwa dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam, untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan.
Di sinilah peran guru penggerak dalam penerapan disiplin positif di sekolah dimulai. Guru penggerak berperan menggerakkan semua warga sekolah dalam mengidentifikasi, menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai kebajikan universal berbentuk keyakinan kelas atau sekolah menjadi dasar tindakan atau perilaku. Keyakinan atau nilai-nilai ini secara praktis bisa dirumuskan melalui kesepakatan kelas atau sekolah yang selanjutnya diperas menjadi bentuk keyakinan kelas atau sekolah.
Diane Gossen juga menyatakan bahwa perilaku manusia didasari 3 (tiga) motivasi yaitu untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, mendapatkan imbalan atau penghargaan orang lain dan menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Di sinilah peran kedua dari guru penggerak untuk dapat mengubah paradigma penerapan disiplin dari berupa hukuman/sanksi, pemberian hadiah/penghargaan, menuju kepada penghargaan diri sendiri dengan nilai-nilai atau keyakinan kelas/sekolah. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak murid melakukan restitusi.
Guru penggerak dalam pendekatan restitusi akan mengajak murid untuk berefleksi tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan menghargai dirinya. Pendekatan restitusi tidak hanya menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah, sehingga sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi menang-menang. Ketika murid melakukan kesalahan, justru ada peluang luar biasa untuk bertumbuh karakternya. Murid perlu bertanggung jawab atas perilaku yang mereka pilih, namun mereka juga dapat belajar dari pengalaman untuk membuat pilihan yang lebih baik di waktu yang akan datang.
Agar dapat mengajak murid melakukan restitusi, perlu transformasi guru penggerak dalam penegakan disiplin dalam posisi kontrolnya. Dari yang menjadi penghukum, pembuat rasa bersalah, sebagai teman dan pemantau menuju posisi kontrol manajer. Pada posisi manajer ini guru penggerak berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang lain, dimana penekanannya bukan pada kemampuan guru membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.
Dalam melakukan restitusi, guru penggerak dapat menerapkan tahapan-tahapan yang dikenal dengan segitiga restitusi, mengacu pada Diane Gossen dalam bukunya Restitution; Restructuring School Discipline, (2001). Tahapan tersebut antara lain:
1. Menstabilkan identitas
Tahap ini bertujuan mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses, karena sebenarnya anak yang melanggar peraturan sedang mencoba memenuhi kebutuhan dasarnya, namun menghadapi benturan. Sehingga kita tidak seharusnya mengkritiknya, karena akan tetap membuatnya dalam posisi gagal. Sebaliknya seorang guru penggerak yang reflektif akan mampu meyakinkan murid, untuk tidak terlalu fokus pada kesalahannya, karena bagaimanapun kesalahan itu telah terjadi, lagi pula semua manusia bisa berbuat kesalahan.
2. Validasi tindakan yang salah
Tahap berikutnya adalah mengenali dasar dari perbuatan salah yang telah dilakukan. Karena setiap tindakan manusia pasti didasari oleh 5 (lima) kebutuhan dasar manusia, yaitu: kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), kasih sayang dan rasa diterima (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan penguasaan (power). Maka ketika seorang murid melakukan sesuatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka karena bertabrakan dengan kebutuhan orang lain. Karena itu guru penggerak perlu memahami alasan murid dalam tindakannya, mau mendengarkan dan selanjutnya mengarahkan agar murid dapat menemukan cara yang lebih efektif dan tidak berbenturan dengan kebutuhan orang lain.
3. Menanyakan keyakinan
Jika murid dapat diarahkan melalui tahap 1 dan 2, maka murid tersebut dapat diajak untuk menghubungkan dengan keyakinan atau nilai yang dipercaya sebagai dasar atau motivasi intrinsik dari setiap tindakan. Dengan demikian anak akan mendapat gambaran yang jelas tentang seperti apa gambaran ideal sosok dirinya yang dinginkannya.
Aksi nyata ini saya lakukan sekitar 2 minggu, karena saya ingin melihat respon dari beberapa kelas yang saya ampu ketika menjalankan aksi nyata, sebagai bahan perbandingan. Demikian pula saya mencari waktu yang tepat untuk membagikan pemahaman dan pengalaman yang saya dapatkan bersama rekan guru di sekolah. Adapun kegiatan yang saya lakukan pada aksi nyata ini yaitu:
- Menyusun kesepakatan dan keyakinan kelas bersama murid
- Pendalaman keyakinan kelas oleh murid
- Mengenali kebutuhan dasar murid
- Melakukan restitusi terhadap murid yang melanggar disiplin
- Membagikan pemahaman dan pengalaman kepada sesama guru
Refleksi Selama Menjalankan Aksi Nyata
Saya banyak sekali belajar bagaimana memperlakukan murid sesuai kebutuhannya. Ternyata murid ingin dipahami sebagaimana mereka memahami diri mereka sendiri. Murid ingin didengarkan ketika melakukan kesalahan. Murid juga bisa diajak berkolaborasi menentukan kesepakatan dan keyakinan mereka, menentukan apa yang terbaik untuk mereka, serta mencari solusi terbaik dari permasalahan mereka.
Dan benar bukan guru yang bisa mengontrol murid, tetapi muridlah yang bisa mengendalikan dirinya sendiri. Semua perilaku murid adalah respon mereka terhadap kebutuhan yang ingin dipenuhinya. Oleh karena itu saat menghadapi murid yang memiliki masalah, seharusnya kita sebagai guru mendengarkan apa yang menjadi keresahannya, dan mengesampingkan kesalahannya.
Saat berbagi aksi nyata dengan rekan guru di sekolah, saya juga mendapatkan respon yang positif. Nampak ada keterbukaan terhadap perubahan paradigma tentang kedisiplinan setelah mendapatkan penjelasan. Berbagi aksi nyata sangat berharga untuk saling belajar. Tidak ada yang salah dalam suatu aksi nyata, karena bagaimanapun banyak pembelajaran yang bisa kita dapatkan. Yang salah adalah jika kita tidak menjadikan kebiasaan sehari-hari dari aksi nyata yang sudah pernah dilakukan.
Perasaan saya selama menjalankan aksi nyata adalah senang dan semangat. Hal ini mungkin karena saya menjadi merasa lebih berharga dan bernilai, karena berusaha melayani murid dengan semestinya. Semoga ini menjadi energi positif bagi saya, dan menular kepada teman-teman sesama guru di sekolah maupun di komunitas profesi lainnya. Ke depan saya akan selalu belajar bagaimana suasana kondusif dan positif dapat terwujud dalam kelas dan sekolah saya. Semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar